Get Lost in Cianjur
Minggu, 16 Maret 2013, rombongan TL-V kembali melakukan perjalanan. Kali ini destinasinya adalah Situs Gunung Padang dan Curug Cikondang yang terletak di Cianjur. Komposisi peserta perjalanan kali ini nggak berbeda jauh dengan traveling-traveling yang sebelumnya. Masih diisi oleh penghuni TL-V kawakan semacam Sigit, Alex, Ucup dan Ikhwan. Yang berbeda adalah pada perjalanan kali ini ada seorang cewek yang turut serta, yaitu Cici yang asli Cianjur. Kehadirannya selain menjadi pemandu wisata kali ini juga menjadi penghemat biaya karena kita dapat menumpang makan di rumahnya, hehe.
Seperti biasa, titik kumpul pertama adalah di kubus ITB. Saya datang paling perdana, pukul 07.00. Lalu disusul dengan Ucup dan Sigit serta Ikhwan. Alex yang ketika dihubungi ternyata baru bangun akhirnya dijemput ke Pelesiran. Setelah menunggu persiapan Alex, kita berlima tancap ke Cianjur pada pukul 08.15 dengan formasi saya membonceng Ucup, Sigit membonceng Alex dan Ikhwan stay alone. Perjalanan menuju Cianjur nggak banyak dilalui dengan hambatan dan sampai di Masjid Agung Cianjur pada pukul 09.30. Di sana, kita menunggu kedatangan Cici sembari sarapan di sekitar masjid.
Tak beberapa lama kemudian, Cici datang dan kita berenam dengan formasi penuh akhirnya berangkat menuju ke destinasi pertama, yaitu Situs Gunung Padang. Perjalanan menuju lokasi diawali dengan mulus hingga daerah Warung Kondang. Namun ketika memasuki jalan yang kecil, dimulailah adventurenya. Saya sebagai pengendara matic agak kesulitan melewati medan berbatu menuju lokasi. Namun begitu, pemandangan menuju lokasi cukup menyejukkan karena didominasi dengan perkebunan teh. Di mana-mana, perkebunan teh di Indonesia memang enak untuk dinikmati.
Setelah melewati terjalnya jalan (yang mengingatkan saya terhadap perjalanan menuju Curug Malela), akhirnya kita sampai di TKP pada pukul 11.30, tepat terik-teriknya matahari. Retribusinya adalah per motor 2000 rupiah. Namun di tempat parkir kita ternyata diminta lagi 1000 per motor serta untuk mendaki ke situs, retribusinya adalah 2000 per orang. Pendakian menuju situs gunung padang cukup singkat namun cukup terjal. Anak tangga yang harus didaki hingga 70-80 derajat. Meski singkat, Alex yang memang terlihat tampak tua saat itu, merasa sangat kelelahan. Setelah sampai di situs, ia hanya duduk terdiam sambil mengatur napas. Sementara kami berlima menikmati panorama dari atas dengan diisi foto-foto.
Situs Gunung Padang merupakan suatu situs Megalitikum yang sangat tua. Menurut pemandu yang ada di sana, pada situs ini terdapat 5 teras yang berisi banyak menhir dan dolmen. Arah setiap bebatuan konon katanya mengarah langsung ke lima puncak bukit/gunung di sekitar Gunung Padang, di antaranya Gunung Gede dan Pangrango. Bebatuan pada situs ini ada yang memiliki irama tersendiri ketika dipukul. Kemungkinan peradaban di sana pada masa lampau telah mengenal cara pembangunan yang tahan bencana, terutama karena letaknya yang berada di sekitar Sesar Cimandiri (saya membacanya dari spanduk di gerbang).

Selesai bercengkerama di sana, kita lanjut menuju destinasi selanjutnya, yaitu Curug Cikondang. Akses menuju lokasi ini ternyata lebih sulit lagi. Kita serasa get lost karena medan yang dilalui sangat sulit (berbatu tinggi) dan sempat kesasar. Namun setelah melalui perjalanan yang melelahkan (terus menerus menekan rem), akhirnya kita sampai di lokasi sekitar pukul 15.00. Curugnya cukup indah dan nyaman untuk dinikmati, terutama karena wisata ini cukup sepi. Praktis, selain rombongan kita, saat itu hanya ada dua rombongan lain yang berada di sini. Curug Cikondang cukup tinggi dan selalu menampakkan pelangi di sekitarnya ketika diteriki sinar matahari.

Pasca bersenang-senang dan berbasah-basahan dari sana, kita berencana untuk lanjut ke Stasiun Cianjur. Namun, sekali lagi medan untuk keluar dari daerah hutan sangatlah lama sehingga kita baru sampai di Cianjur kota pada pukul 18.30. Karena sudah cukup malam dan kelelahan, kita urungkan niat menuju stasiun dan langsung mengarahkan kendaraan menuju Rumah Cici. Di sini kita dijamu dengan luar biasa oleh keluarga Cici dengan diberi makanan serta tawaran untuk menginap. Akibat rasa lelah yang amat sangat, saya melahap makanan hingga dua piring. Setelah makan, kita bercengkerama di sana dengan keluarga Cici dan seperti biasa, rasa kantuk itu pun tiba. Kali ini, rasa kantuk yang tercampur dengan lelah benar-benar menghinggap di kepala. Namun karena beberapa di antara kami ada yang KP di keesokan pagi, maka mau tidak mau kita harus pulang pada hari itu juga.

Akhirnya, kita pun beranjak pulang pada pukul 20.00 dan berpamitan dengan keluarga Cici. Untuk menanggulangi kantuk yang amat sangat, saya membeli dulu doping di minimarket. Setelah itu, perjalanan pulang pun dilalui menuju Bandung. Sebuah kombinasi yang buruk ketika perjalanan pulang, yaitu hujan deras, tanpa memakai ponco, melawan truk-truk besar dan Ucup tertidur di jalan. Berkali-kali helmnya mematuk helm saya. Tanpa menghiraukan Ucup yang terlelap, saya terus memacu kendaraan melawan kantuk dan hujan hingga akhirnya sampai dengan selamat di Bandung pukul 21.15. Sebuah perjalanan singkat yang cukup membawa energi positif buat beberapa hari ke depan.
Cerita Perjalanan : Travelling Perdana TL-V
Salam Traveller! Jadi ceritanya di kepengurusan tahun ini, himpunan tercinta, HMIF, bakal membentuk klub-klub minat bakat. Salah satunya adalah pembentukan klub Traveller Labtek-V. Inisiatornya ada dari angkatan 2009 sama 2010. Dari 2010 ada saya, Sigit, Ikhwan yang saat itu ikut kopdar perdana. Obrolan kopdar saat itu adalah mengenai proposal, kegiatan dan batasan-batasan hingga properti, nama, logo klub dan yang paling penting tentu saja tujuan perjalanan. Saat itu, ada dua opsi untuk perjalanan perdana klub, yaitu naik Gede-Pangrango atau turun ke pantai Cianjur-Garut. Dengan berbagai konsiderasi, akhirnya dipilihlah destinasi menuju pantai Cianjur-Garut dengan tanggal perjalanan adalah tepat setelah UAS.
Sebenarnya itinerary telah dibuat jauh-jauh hari sebelum perjalanan. Namun, menjelang hari-H, timbul banyak constraint. Dari yang awalnya direncanakan berangkat tanggal 21, ternyata ada halangan demo tubes progin. Selain demo, saya juga memiliki agenda DE pada tanggal 22 dan 23. Jadilah perjalanan ditunda menjadi tanggal 24. Namun ternyata, tanggal 24 pun saya masih harus menyelesaikan beberapa urusan yang urgen, seperti rapat gemastik, rapat siskeu, ngurus berkas pengawas SBMPTN hingga rapat PJS HMIF. Selain karena beberapa hal tersebut, pada malam sebelumnya, sharing DE pun dilakukan hingga jam 3 pagi sehingga tidak dimungkinkan untuk nyetir, tentu saja karena akan ngantuk di jalan. Akibatnya, perjalanan dibagi menjadi dua kloter, ada yang berangkat tanggal 24 dan ada yang berangkat tanggal 25. Peserta kloter pertama adalah Sigit, Ikhwan, Alex dan Bintang dengan tujuan pantai Cidaun-Jayanti Cianjur. Sementara peserta kloter kedua adalah saya, Iqbal, Gilang, Pandu, Jo dan Aldo dengan tujuan langsung pantai Rancabuaya.
Di tanggal 25 yang sangat mendung, Iqbal sudah menjarkom kumpul jam 06.30 di kubus. Yang pertama datang adalah dia sendiri. Namun karena alasan ingin boker, dia balik lagi ke kosan. Disusul saya yang datang tepat pukul 07.00. Tentu saja belum ada siapa-siapa. Sembari menunggu, saya sarapan soto di kubus. Kubus saat itu dipenuhi banyak traveller lain dengan destinasinya masing-masing. Maklum, musim liburan ITB telah tiba. Selain kita, ada rombongan Travelology-nya GEA, ada rombongan kokesma, ada juga rombongan minyak dan mesin. Setelah soto habis, akhirnya Jo tiba pukul 07.30. Disusul saya menjemput Aldo beberapa menit kemudian. Gilang datang sepersekian detik kemudian, namun balik lagi karena belum memeriksa tugas asisten. Pandu yang baru bangun sekitar jam 08.00 kemudian dijemput Iqbal. Akhirnya, dengan segala bentuk kengaretan, kita berangkat tepat pukul 09.00.

Perjalanan dilalui melewati jalur Pangalengan. Jalur yang lumayan sepi sehingga kita bisa bermanuver ria memacu motor dengan teknik masing-masing, terutama ketika jalan sedang mulus. Destinasi pertama kita adalah Situ Cileunca, Pangalengan. Di sana kita menyempatkan foto-foto sebentar sembari melihat orang-orang berarung jeram. Selepas dari sana, perjalanan dilanjutkan melalui kebun teh yang hijau dan tebing-tebing coklat. Panorama khas tropis Indonesia di ketinggian yang indah dilihat, terutama ketika cuaca cerah. Ketika ada spot yang menarik, kita tentu saja berhenti sebentar untuk mengabadikannya.

Pasca melewati kebun teh, motor Iqbal mengalami masalah. Rem belakangnya tidak berfungsi. Alhasil, SOP perjalanan pun dibentuk. Iqbal di depan dan tidak ada yang boleh melewatinya. Namun SOP tersebut sangat sulit untuk dipatuhi. Bukan hanya karena saya dan Jo yang terlalu cepat, tapi juga karena Iqbal yang sangat mudah untuk disusul. Bahkan motor saya dalam keadaan ngerem dan tidak ngegas pun dengan tidak sengaja bisa menyusul Iqbal. Saya dan Jo yang khilaf dan menikmati jalanan mulus pun meninggalkan Iqbal dan Gilang di belakang cukup jauh. Beberapa kilometer kemudian, ada spot menarik lagi yaitu perpaduan kali dan batu-batunya yang besar. Saya dan Jo berhenti sembari menunggu Gilang dan Iqbal sambil menyempatkan Aldo untuk tidur sebentar. Maklum, dia katanya baru selesai ngerjain tugas Medin jam 4 pagi. Setelah ditunggu, rombongan belakang akhirnya datang. Ternyata Iqbal tertinggal karena bannya bocor. Untung bisa langsung disolve. Setelah foto-foto sebentar, kita melanjutkan lagi perjalanan menuju Rancabuaya. Ditemani kabut yang cukup tebal, akhirnya kita sampai di Rancabuaya pukul 14.30.

Di Rancabuaya, kita ishoma dan menghabiskan waktu untuk foto-foto hingga pukul 16.00. Di sini kita belum melakukan ritual mandi-mandian karena rencananya nanti saja ketika bergabung dengan kloter pertama. Kelar dari Rancabuaya, kita lanjut ke Santolo dengan melewati berbagai pantai yang mubazir tidak dikunjungi. Perjalanan dari Rancabuaya menuju Santolo sekitar 30 km dan melewati banyak gerbang pantai. Namun karena cuaca sedang tidak bersahabat dan ingin mengejar sunset, kita melewati semua pantai-pantai tersebut. Padahal dilihat dari jalan, pantainya keren-keren. Paduan biru laut dan hijau perbukitan teletubbies diselingi dengan tebing-tebing coklat dari gua, terutama ketika cuaca sedang cerah.

Sampai Santolo pukul 17.15 dan disambut kloter pertama di penginapan. Awalnya kita berniat untuk bermalam di pasir pantai, namun karena ombak sedang pasang dan cuaca sedang tidak bersahabat akhirnya kita memutuskan untuk sewa penginapan saja. Kloter pertama sendiri pada malam sebelumnya telah tidur di pasir pantai Jayanti, Cianjur. Sore itu, hujan sangat deras sehingga sunset gagal didapatkan. Hujan terus-menerus hingga malam hari sehingga kita hanya terkurung di penginapan, mainan kartu, mainan gitar, mainan tablet dan mainin semua yang bisa dimainin dengan suasana guyub dan banyak candaan hingga kita semua tertidur pukul 23.00.

Rencananya pukul 02.00 pagi kita akan bangun dan nobar final Liga Champions antara Dortmund vs Muenchen. Namun semua itu hanyalah rencana. Kita kesiangan dan siaran diacak karena di sini menggunakan parabola. Kita hanya mendapat kabar kalau Muenchen yang juara dengan Robben mencetak gol penentu di menit-menit terakhir. Konspirasi.
Pagi itu kita berencana melihat Sunrise di Sayang Heulang. Langsung berangkat dan tiba di sana sekitar pukul 06.00. Sayang, lagi-lagi karena cuaca sedang mendung, sunrise tidak bisa dinikmati sempurna. Namun tetap saja foto-foto tidak bisa dilewatkan. Di Sayang Heulang, kita melakukan mandi-mandian sampai puas. Sambil bermain bola dan gentleman shake, kita menikmati ombak pagi itu yang lumayan dahsyat. Kita menikmati ketika ombak mendorong kita beberapa meter dan menyeret kita kembali. Tubuh yang diombang-ambingkan ombak memang ngebuat ngefly dan aura kemasakecilan kembali tumbuh. Beberapa candaan khas di pantai yang sepi dilakukan seperti menciprat-cipratkan ombak, lempar-lempar pasir, dorong-dorongan dan lainnya. Semua dilakukan dengan lepas, tanpa beban, seperti anak kecil yang belum memiliki himpitan deadline pekerjaan. *kemudian saya teringat beberapa urusan di Bandung, huft*

Puas bermain di Sayang Heulang, kita lanjut bermain di Santolo, tanpa Ikhwan dan Iqbal yang pulang duluan karena ada urusan di Bandung. Menyeberang pulau seharga 2000 dan susur pulau ke arah kanan terlebih dahulu untuk menikmati panorama di sana yang mana Papandayan jelas terlihat dari sana. Memang, ombak sedang sangat pasang saat itu sehingga sandal Jo dan Pandu terseret ombak. Sembari ngopi, objek-objek menarik pun diambil di sana. Setelah itu, kita susur pulau ke arah selatan. Setelah melewati hutan cukup jauh, akhirnya kita sampai di ujung selatan Santolo yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Salah satu hidden paradisenya mungkin karena suasana sepi dan pemandangan lautan lepas yang indah. Perjalanan saat itu ditutup dengan naik perahu motor hingga tengah lautan dan diombang-ambingkan ombak yang tinggi.

Kita lepas dari Santolo sekitar pukul 14.30 dengan destinasi selanjutnya adalah Cipanas. Perjalanan menuju Cipanas dilalui dengan kecepatan yang di atas rata-rata dan kita sampai tepat maghrib dengan diselingi makan di daerah Cisompet. Di Cipanas, tentu saja kita berendam di air panas hingga sekitar pukul 21.00. Setelah itu terjadilah pelbagai opsi. Opsi pertama adalah nginep dan keesokan harinya dilanjutkan dengan muter-muter banyak objek di Garut dan opsi kedua adalah pulang ke Bandung. Karena beberapa dari kita ada yang masih UAS Medin dan dompet menipis, maka opsi kedua yang dilakukan. Pulang dari Garut sekitar pukul 22.30 melewati jalur Nagreg yang indah di malam hari hingga akhirnya sampai Bandung tepat pukul 00.00. Menyetir dengan ngantuk dan kecepatan tinggi, untungnya selamat hehe.
Walau sempat tertunda dan dilalui banyak hambatan, akhirnya jalan-jalan perdana TL-V sukses dilaksanakan meskipun sebagian besar pesertanya masih angkatan 2010. Tentu saja, ini hanyalah awal dari perjalanan-perjalanan kita selanjutnya. Bahagia rasanya memiliki teman-teman yang memiliki hobi sama dalam hal travelling dan backpacking, hehe. Nantikan catatan perjalanan selanjutnya yak. Wacana yang dilempar sih selanjutnya bakal naik gunung, antara Gede-Pangrango atau Kerinci. Yoi, Kerinci gunung tertinggi di Sumatera. Entah wacana mana nanti yang akan terealisasi karena prinsip kita saat ini adalah buat banyak wacana, kemudian realisasikan satu yang paling mungkin.
Album lengkap : http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10201119971750752.1073741829.1512976527&type=3
Banjir Bintang di Bukit Moko
Senin kemarin, muncul sebuah milis yang benar-benar tidak terduga dan sangat diharapkan oleh seluruh awak Inception. Milis dari dosen KAP yang mengumumkan bahwa tidak ada UAS KAP. Benar-benar diluar dugaan, muncul H-1 sebelum pelaksanaan UAS. Sontak timeline twitter tiba-tiba ramai menghadapi pengumuman tersebut. Saya sendiri saat itu masih belum tahu hingar bingar ketiadaan ujian karena sedang mengurus KP di PT.INTI. Setelah beberapa kali galau, akhirnya kita (Saya, Pabot, Fandi) sudah fix benar menetapkan pilihan KP di sini. Kerjaan di sana pas banget dengan skill yang kita bisa saat itu, yaitu ngoding web pake framework, bisa CodeIgniter atau framework lainnya. Proyek pertama yang dikerjakan semacam membuat sistem pengaksesan database sederhana. Jika ini berhasil, ada kemungkinan diajak ke proyek yang lebih besar dan tentunya ada bayarannya. Selain itu, kita pun hanya wajib bertatap muka setidaknya seminggu sekali untuk cek progress. Menimbang berbagai keuntungan yang ditawarkan, akhirnya kita menetapkan hati ke sini dan langsung mengurus surat KP ke TU.
Kembali lagi ke hingar bingar ketiadaan ujian. Salah seorang awak tua Bukan Inception menginisiasi untuk jalan-jalan dadakan. Tujuannya adalah Bukit Moko, sebuah bukit di ujung Bandung yang cukup tinggi dan katanya indah. Saat itu, Sigit sebut saja, mengsms saya untuk berangkat sekitar 16.30. Tanpa pikir panjang, karena saya suka yang namanya dadakan, saya langsung membalas "Oke siap sikat bungkus gan". Belum sempat sms terkirim, baru teringat ada demo sister jam 17.00. *Sigh* Alhasil saya menimbang untuk menyusul saja berangkat maghrib-maghrib. Demo sister dilakukan hingga pukul 17.45. Kelar dari sister saya menuju Lab Gaib untuk mengajak orang. Ada satu orang yang berhasil diajak, yaitu Pandu. Langsung kita bergegas menuju parkiran sipil. Lalu tiba-tiba Gilang sms mau ikut juga. Perjalanan kloter ini pun diisi dengan 3 orang.
Perjalanan dilalui dengan cukup ngebut dan kita sudah sampai moko sekitar pukul 18.30. Namun karena sebelumnya kita tidak melihat tanda-tanda rombongan Sigit, kita menelepon mereka. Ternyata mereka menunggu di warung-warung dekat beringin Cartil. Wah kita terlalu bersemangat ternyata sudah sampai moko duluan. Di perjalanan balik menuju Cartil, tiba-tiba ada rombongan mobil Kenny berpapasan. Isinya ada Erida, Kenny, Tika, Nunu, Frilla dan Zul. Mereka absolutely muat dalam satu mobil Kenny. Beberapa detik kemudian muncul rombongan Sigit yang terdiri dari Sigit, Whilda dan Alex. Alhasil sisa perjalanan ke Moko dilalui dengan pasukan yang lengkap, 12 orang. Cukup rame.
Sebagai informasi, jalan menuju Bukit Moko dapat diakses melalui Jalan Padasuka, yaitu sebuah jalan dekat Cicaheum yang terdapat juga plang Saung Angklung Udjo. Begitu sudah sampai jalan tersebut, tinggal geber saja kendaraan melalui jalan menaik sampai pol. Jalanan awal masih beraspal dan dapat dilalui dengan baik oleh mobil. Menuju atas, jalan makin sulit karena sempit dan berbatu. Jalanan bebatuan mengingatkan trek ke Papandayan. Begitu sampai atas, ada sebuah plang yang menuliskan perbukitan Moko. Naik jalan tersebut dan sampailah kita pada sebuah cafe di ujung bukit sana.
Bukit Moko merupakan sebuah bukit yang di dalamnya selain terdapat cafe juga terdapat sekitar dua tanah lapang. Dari sana, kita dapat melihat bintang yang sangat indah di langit serta di bawah, yaitu lampu-lampu Kota Bandung. Bagi saya, ini merupakan Bukit Bintang yang paling indah yang pernah saya lihat pake mata kepala sendiri. Perpaduan gradasi langit yang indah apalagi menuju malam yang semakin pekat. Bintang di langit tidak lagi tertutup polusi dan awan mendung sehingga terlihat cukup banyak dan indah. Lampu-lampu kota yang terlihat titik-titik dan mengular. Romantis, seperti yang digambarkan oleh novel-novel.
Malam itu, setelah sampai dan memesan makanan, beberapa di antara kita langsung memandang pemandangan yang indah di depannya. Beberapa menit kemudian saya dan beberapa teman (Gilang, Pandu, Chaq dan Sigit) yang belum sholat maghrib melakukan kewajibannya untuk sholat di cafe tersebut. Cafenya cukup lengkap karena menyediakan juga musholla dan toilet. Selepas sholat, kita mendapati teman-teman yang lainnya sedang main truth or truth (game apalah itu, pokoknya intinya game jujur-jujuran). Awalnya, saya, Pandu, Gilang dan Chaq tidak ikutan dan hanya menguping dari seberang sambil makan internet. Namun suara mereka bermain sangat bisik-bisik, hanya rahasia Sigit yang bisa terdengar. Alhasil kita pun ikut join game tersebut. Pasca bergabung, terbongkarlah semua rahasia teman-teman Inception, yang mayoritas tentang cinta dan perasaan. Ada rahasia yang sudah bisa ditebak, ada rahasia yang benar-benar baru diketahui. Rahasia saya pun berhasil terbongkar saat itu. Haha, untungnya kita sepakat kalau rahasia-rahasia yang dikeluarkan malam itu hanya untuk konsumsi kita 12 orang saja, tidak untuk disebar ke publik, hehehe.

Pasca bermain, kita melakukan foto-foto dan ritual-ritual lainnya yang hanya bisa dilakukan di tempat gelap hehe. Kita menikmati malam itu, sebuah malam bersama-sama Inception yang akhir-akhir ini sulit dilakukan. Ada yang main air, ada yang joget striptis, ada yang main kamera, ada yang ngeliat bintang di atas, ngeliat bintang di bawah, ada yang galau, ada yang bolak-balik ke WC (itu gue) hehe. Momen kebersamaan yang baik di tempat yang baik pula. Semoga bisa berjalan terus mengingat kita saat ini telah menginjak tingkat tiga dan (harusnya) setahun lagi akan lulus. Hiks.
Enjoy the Loneliness : Explore Bandung Utara
Perjalanan hidup memang sulit untuk ditebak. Terkadang ketika kita mengharapkan hal A, justru yang terjadi adalah hal B. Terkadang, ketika kita sudah melakukan perencanaan yang matang, namun ketika aksi dijalankan tidak seperti yang direncanakan. Terkadang pula, ada hal-hal diluar dugaan yang terjadi, dan ketika kita mengetahui hal tersebut, terdapat pilihan untuk lebih baik pura-pura tidak mengetahuinya.
Hidup memang penuh akan pilihan. Pilihan-pilihan tersebut akan membawa kita pada pilihan-pilihan selanjutnya yang lebih sulit. Ketika kita memilih A, selanjutnya kita dihadapkan pada sulitnya pertimbangan pemilihan opsi selanjutnya. Kita pernah merasa bahwa opsi yang kita pilih adalah salah, namun dalam hal tersebut sekeras usaha kita untuk menghilangkan opsi tersebut namun tetap akan memiliki perasaan terhadap opsi awal.
Hidup memang penuh lika-liku. Hidup memang sulit dimengerti. Sesulit memahami prolog di atas. Terkadang, manusia mengalami apa yang namanya titik jenuh, bad mood, perasaan-perasaan yang membuat demotivasi akibat rentetan kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya. Dalam hal tersebut, dibutuhkan suatu efek pelarian, suatu penyegaran kembali agar mampu merenungi, mengkontemplasi rentetan kejadian sebelumnya agar kembali dengan perasaan yang segar kembali.
Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menyegarkan perasaan jenuh atau bad mood tersebut. Ada yang dilampiaskan dengan belanja ke mall, ke salon, nonton bioskop, main PES seharian, baca buku, ngoding seharian ataupun pergi ke alam. Khusus untuk saya, pelarian yang paling pas adalah pergi ke alam. Melihat pemandangan yang menyegarkan merupakan obat sembari merenungi hal-hal yang membuat perasaan tidak enak.
Seperti sabtu kemarin, di tengah rentetan tugas besar dan UAS, ditambah sedikit masalah di suatu organisasi, perihal hubungan sesama manusia serta rutinitas yang membuat jenuh, saya melakukan perjalanan sendirian ke alam, tepatnya daerah Bandung Utara. Terkadang kesendirian itu perlu dinikmati dengan maksimal. Memang saat itu saya berusaha mencari partner untuk diajak. Temen-temen kampus pasti capek dengan tugas besar karena baru saja ngedeadline. Temen sekosan pada pulang kampung semua, tinggal Edhu, pas dicari di kamarnya ternyata nggak ada. Mungkin lagi ngajar. Maklum, kalo nggak ngajar hidupnya bergantung penuh pada saya haha. Jadilah saya pergi sendirian hanya bermodal beat biru kesayangan.
Selepas ashar, saya pergi menuju Gunung Batu. Sebelumnya saya juga sudah googling mengenai tempat ini dan rasanya memang tempat ini cocok untuk pelarian saat ini. Sebenarnya Gunung Batu lebih mirip sebagai bukit. Tingginya hanya 1300 mdpl. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 10-15 menit untuk meraih puncaknya. Akses menuju gunung ini cukup mudah meski tidak dipandu dengan papan penunjuk jalan. Berkat panduan maps di gadget, saya menuju jalan Bukanagara 2. Untuk menuju jalan tersebut, lewati saja jalan menuju Maribaya. Selepas pertigaan utama, akan ada jalan kecil di sebelah kanan. Jalan tersebut lah yang menuntun kita menuju gunung batu.


Pasca memarkirkan kendaraan di tempat yang aman, saya membuka kamera digital dan memotret pemandangan sekitar sebelum memulai nanjak. Saya mendaki gunung hanya dengan perlengkapan seadanya. Trek menuju puncaknya memang cukup berat karena berbatu dan cukup licin, apalagi saya saat itu menenteng helm. Sekali terpeleset maka akan jatuh cukup jauh. Untungnya saat itu saya mengenakan sandal gunung, jadi cukup aman ketika menjejakkan kaki pada bebatuan yang licin.


Setelah 10 menit mendaki, saya sudah sampai puncak. Puncaknya cukup sempit, namun bisa untuk sekedar menaruh matras sembari bersantai di atas. Di puncak gunung ini terdapat seismograf untuk pencatat gempa vulkanik. Dari puncak, dapat dilihat panorama Kota Bandung, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang, Gunung Manglayang bahkan hingga Gunung Papandayan jika cuaca sedang cerah. Di sini, saya membuka bekal yang dibawa sebelum berangkat tadi dan membuka buku catatan. Hanya ada saya dan dua pasang cewek-cowok di puncak sehingga saya bisa menikmati kesendirian di sini sembari membuka catatan-catatan kecil di notes. Puas menikmati kesendirian dengan panorama yang keren, saya turun gunung pada pukul 16.45.


Jalur pulang saya tidak lagi melewati Lembang, akan tetapi lewat Dago. Di perjalanan, saya singgah sebentar di Bukit Centre (orang-orang di situ menyebutnya seperti itu). Lokasinya ada di jalan antara Lembang-Dago. Tanya-tanya saja kepada warga lokal untuk menuju lokasinya. Tempat ini merupakan bukit dengan view pemandangan perbukitan dan pegunungan di sekeliling. Sayang ketika sampai sini, baterai kamera habis sehingga tidak sempat mengabadikan panorama.
Selepas dari Bukit Centre, perjalanan dilanjutkan hingga ke Dago Giri. Di sini terdapat tempat yang bernama Lawangwangi, yaitu Gallery dan Café yang memiliki view Kota Bandung. Di sini saya kembali berhenti sejenak sembari menikmati senja. Senja yang cukup indah karena cuaca sedang cerah. Sayang tidak dapat diabadikan, lagi-lagi karena baterai kamera habis.
Puas menikmati senja di Lawangwangi, saya memacu beat kesayangan ke arah Bukit Bintang. Untuk menuju lokasi ini, selepas Dago Giri lakukan putar balik menuju arah Dago Pakar dan lurus terus hingga pertigaan Stone Café. Masuk kanan dan langsung dihadapkan dengan pos penjagaan. Bayar retribusi motor 2000 untuk masuk. Di bukit bintang saat itu sangat ramai dengan pasangan muda-mudi. Maklum saat itu malam minggu. Jadilah saya tidak bisa menikmati kesendirian, meskipun view Kota Bandung terlihat sangat indah dari sana.. Di sana hanya makan roti sebentar dan langsung pulang. Jalan pulang lewat dago dan mampir sebentar di salman untuk Sholat Maghrib. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan melewati flyover malam hari dan macetnya Cipaganti malem minggu hingga destinasi terakhir adalah di Lawson Setiabudi untuk rehat dan ngopi.
Perjalanan yang cukup menambah pengalaman, menambah life point, menambah kesegaran di tengah-tengah rutinitas dan perasaan-perasaan tidak enak. Lumayan menghasilkan sesuatu di notebook mengenai beberapa hal yang digalaukan. Meskipun ketika sudah sampai kembali galau karena belum mendapat tempat KP. *sigh. Yang jelas manusia memang memiliki kebutuhan untuk menikmati kesendirian. Mengenai porsi dan caranya tergantung masing-masing manusia tersebut. Hal ini esensial untuk menghindari stress dan dalam urgensinya untuk kembali menemukan semangat baru.
Meniru Sepakbola Jerman
Tengah pekan ini, Liga Champions Eropa dikejutkan dengan kemenangan telak yang diraih oleh dua klub Jerman atas dua raksasa sepakbola asal Spanyol yang lebih diunggulkan. Bayern Munchen dengan tenang mengalahkan Barcelona meski kalah telak dalam hal possession, sedangkan Borussia Dortmund dengan elegan mempermalukan Real Madrid dan mempertontonkan Robert Lewandowski sebagai aktor utama yang mencetak quattrick.
Hasil tersebut bukanlah merupakan hasil yang diperoleh secara instan. Sekitar empat tahun lalu, bahkan Dortmund pernah dipermalukan Madrid dengan skor 5-0. Bundesliga dan DFB melakukan reformasi pada tahun 2002 dengan menerapkan kebijakan yaitu syarat untuk bermain di Bundesliga 1 dan 2 adalah memiliki sebuah akademi sepakbola. Akademi sepak bola ini harus memiliki minimal 12 pemain Jerman di setiap kelompok umur. Klub Bundesliga 1 dan Bundesliga 2 menghabiskan 75 juta euro per tahun untuk mengelola akademi-akademi itu. Sebanyak 5.000 pemain berusia 12-18 tahun dididik di sana, yang saat ini telah membuat jumlah pemain U-23 di Bundesliga meningkat 15 persen.
Reformasi tersebut merupakan suatu lecutan atas kegagalan yang pernah diraih mereka di World Cup 1998, seperti yang pernah saya tulis di sini (Analisis Sepakbola Jerman). Secara bertahap, sistem pembinaan tersebut mulai menunjukkan hasilnya pada 2010, ketika mereka berhasil meraih tempat ketiga. Skuad saat itu dihuni oleh sebagian pemain muda yang menakjubkan, fenomenal dan belum banyak diketahui orang, seperti Mueller, Oezil dan Khedira.
Lalu pada Euro 2012, dengan skuad rata-rata berusia sekitar 23 tahun, mereka kembali mampu mencapai semifinal. Generasi World Cup 2010 ditambah sokongan pemain muda baru seperti Marco Reus, Andre Schurrle, Matt Hummels, Mario Gotze serta Toni Kroos mampu mencuri perhatian kala itu. Permainan kolektivitas dan didukung dengan taktik brilian Joachim Loew mampu membuat kejutan dengan mengalahkan tim-tim dengan skuad yang lebih diunggulkan.
Hasil apik tersebut sudah pasti merupakan implikasi dari klub-klub Bundesliga yang mengedepankan akademinya. Jika dilihat dari kualitasnya, pemain yang diekspor dari Bundesliga memiliki nilai jual yang lebih dibanding dari yang mereka impor. Salah satu contohnya adalah Oezil dan Khedira yang diekspor ke Real Madrid serta Lewandowski yang diimpor ke Borussia Dortmund. Setelah ditempa di akademi Bundesliga, Lewandowski tumbuh menjadi penyerang yang ditakuti lawan, tentunya dengan sokongan pemain muda asal Jerman lainnya seperti Reus dan Gotze. Hasilnya dapat dilihat dari permainan UCL kemarin. Kolektivitas dan counter yang sangat apik dari anak-anak muda Dortmund mampu membungkam tim megabintang Real Madrid yang memiliki skuad lebih baik. Dilihat dari nilai, skuad Dortmund memiliki nilai hanya sepersepuluh dari skuad Madrid. Hal ini sekali lagi merupakan implikasi dari akademi sepakbola yang baik, yang diterapkan oleh DFB.
Dalam konstelasi pembinaan pemain muda, suporter memiliki hubungan yang sangat erat dalam keberjalanan sistem tersebut. Di Jerman, suporter yang notabene merupakan masyarakat Jerman sendiri dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan klub dan kebijakan-kebijakan, sehingga tidak ada entitas yang benar-benar menguasai suatu klub. Akibat hal ini, tidak ada tim seperti Chelsea atau City yang mampu mendapat sokongan dana dalam jumlah besar. Namun jika dilihat dari sudut pandang lain, kebijakan ini mampu mengurangi kemungkinan suatu tim jatuh ke tangan asing.
Di Bundesliga, harga tiket musiman dibanderol sangat murah. Untuk menonton pertandingan tim sekelas Munchen dan Dortmund hanya dibutuhkan sekitar 300 poundsterling untuk tiket terusan. Harga ini setara dengan tiket terusan Wigan Athletic yang notabene tim dengan tiket terusan termurah di Premier League. Hasil dari hal tersebut adalah Bundesliga menduduki peringkat pertama dalam hal penonton per pertandingan, yaitu sebanyak 45000, mengalahkan Premier League yang mencapai 34000.
Apakah pendapatan yang diperoleh dari tiket signifikan? Ya, karena ditambah sokongan sponsorship mayoritas dari 18 klub bundesliga memperoleh keuntungan yang besar dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut tak lepas dari terus membaiknya sistem pembinaan pemain muda sehingga membantu klub untuk memangkas anggaran belanja dan gaji pemain.
Selain itu, terdapat satu hal lain dari Bundesliga yang patut dicontoh, yaitu mengenai kebijakan finansialnya. Sepak bola Jerman memiliki buku panduan yang memberikan penjelasan detail tentang ketentuan mengenai likuiditas dan utang, dibanding hal lain. Hal yang paling penting dari peraturan finansial itu, boleh jadi, adalah klub harus menunjukkan bahwa mereka memperkirakan setidaknya balik modal atau mereka tak akan mendapatkan lisensi untuk mengikuti kegiatan sepak bola profesional. Sebuah kebijakan yang sangat strategis tentunya jika diterapkan di negeri sendiri.
Dengan sistem keuangan seperti itu, klub “dipaksa” menggunakan jasa pemain binaan ketimbang membayar pemandu bakat untuk mencari dan akhirnya merekrut pemain di berbagai belahan dunia, yang notabene akan memberikan beban lebih besar pada anggaran untuk transfer dan gaji pemain. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, klub bisa menjamin kelangsungan hidupnya meski tak meraih keuntungan luar biasa atau gelar prestisius, karena bagaimanapun, terlepas dari embel-embel trofi dan pengakuan global, klub sepak bola profesional pertama-tama harus mapan dan berumur panjang karena merupakan tempat mencari nafkah.
Kemudian sekali lagi, berkaca ke sepakbola negeri sendiri, sudah seharusnya kita untuk meniru langkah-langkah serta kebijakan taktis yang dilakukan oleh DFB. Sistem pembinaan pemain muda harus diterapkan sejak sekarang sehingga kita tidak perlu lagi melakukan nasionalisasi terhadap pemain-pemain luar. Hasilnya memang tidak akan tampak dalam beberapa tahun yang dekat, bahkan Jerman pun baru menampakkan hasilnya sekitar 8 tahun. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah mencoba, tidak ada kata gagal sebelum mencoba menerapkan sistem yang terbaik. Beri ruang khusus, kebijakan yang tepat kepada setiap klub agar melakukan sistem pembinaan pemain muda yang terbaik. Talenta-talenta sepakbola kita tidak hanya tersentral di beberapa tempat saja, akan tetapi menyebar hingga ke Papua sana. Sudah seharusnya PSSI dan Kemenpora sebagai pengambil kebijakan untuk mendukung sistem pembinaan pemain muda terbaik dan menyeluruh.
Selain itu, regulasi dan kebijakan mengenai kepemilikan klub yang melibatkan suporter juga perlu dikonsiderasikan. Sebagaimana kita tahu, pasar sepakbola terletak pada suporter dan mereka mengetahui banyak hal-hal yang baik mengenai tim yang mereka dukung. Suporter perlu dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan klub. Indonesia memiliki potensi suporter yang sangat luar biasa dan melimpah. Hampir seluruh penjuru Indonesia memiliki fanatisme yang tinggi terhadap sepakbola. Jika mereka dilibatkan secara langsung, bukan tidak mungkin klub-klub akan semakin profesional dan sedikit menghindari adanya kericuhan suporter yang mewarnai pertandingan.
Kebijakan finansial pun perlu dipertimbangkan dengan menerapkan regulasi-regulasi yang memaksa suatu klub untuk menggunakan jasa pemain binaan. Dengan regulasi seperti ini, klub lebih profesional dalam membangun akademinya agar mampu mengikuti sepakbola profesional sehingga akan timbul pengelolaan uang yang baik. Dengan hal tersebut, tidak akan lagi muncul persoalan gaji yang telat dibayar dan sebagainya. Sebagaimana dikutip dari kalimat di atas, walau bagaimanapun, terlepas dari embel-embel trofi dan pengakuan global, klub sepak bola profesional pertama-tama harus mapan dan berumur panjang karena merupakan tempat mencari nafkah.
Rangkaian-rangkaian tersebut mungkin akan menampakkan hasilnya 10 hingga 15 tahun ke depan, namun jika hal tersebut dilakukan sejak dini, sistem persepakbolaan kita memiliki pijakan tersendiri untuk menjadi yang didambakan seluruh suporter se-Indonesia. Dengan sistem pembinaan pemain muda terbaik, suporter yang dilibatkan serta kebijakan finansial yang strategis, implikasi paling diharapkan adalah timbulnya pemain-pemain muda binaan klub yang membela timnas Indonesia dan memiliki skill mumpuni. Bukan tidak mungkin jika kita bisa memiliki Oezil, Mueller, Gotze serta Reusnya Indonesia. Bukan tidak mungkin Andik-Andik lain akan bermunculan dan melimpah di liga lokal yang jauh dari komersialisasi. Sehingga pada akhirnya adalah timnas kita mampu bersaing secara meyakinkan di tingkat internasional.
Apakah Benar-Benar Sibuk?
Terkadang seseorang merasa bahwa dirinya mengalami cukup banyak kesibukan yang menyita waktu dan pikiran. Terdapat pula pembenaran bahwa timbulnya penyitaan waktu dan pikiran tersebut akibat kesalahan masing-masing personal dalam memanajemen hati serta waktunya. Namun di sudut lain, terdapat sebuah pemikiran jika ternyata kesibukan yang saat ini didapatkan adalah karena kita sulit untuk mengatakan tidak. Coba kita renungkan, mengapa kita mengatakan ya? kapan kita mengatakan tidak? mengapa mengatakan ya ketika tahu bahwa hal tersebut sulit untuk dilakukan?
Orang-orang cenderung mengatakan ya untuk menghindari adanya konflik ataupun untuk memunculkan persetujuan yang instan sehingga tidak mengecewakan seseorang. Kita mengatakan ya juga karena kita tidak memiliki prioritas serta penempatan waktu yang jelas. Dan tentu saja, kita mengatakan ya juga karena kita benar-benar berarti setuju dan menyanggupi tawaran yang diterima.
Namun pada dasarnya, cukup banyak jawaban ya yang dilakukan benar-benar tidak didasari komitmen, hanya menunda pengambilan keputusan saat ini untuk diambil pada masa depan sehingga pada akhirnya menumpuk Do-List untuk masa depan tersebut. Akibatnya adalah, bertumpuknya kesibukan tersebut tidak mampu memperoleh esensi masing-masing pekerjaan secara holistik. Nilai dari masing-masing pekerjaan yang tanpa didasari komitmen hanya akan diperoleh secara parsial atau bahkan tidak sama sekali.
Kita seringkali mengatakan ya ketika kita tidak memiliki alasan yang cukup valid untuk mengatakan tidak. Hal ini tidak sepenuhnya merupakan kebiasaan yang salah karena terkadang kita perlu untuk mencoba sesuatu yang baru meskipun kita merasa tidak sanggup akan hal tersebut. Dalam beberapa hal, pertimbangan untuk mengatakan ya adalah hal yang terbaik. Ketika kita mengatakan ya, secara tentatif biasanya karena kita sulit menemukan alasan mengatakan tidak.
Beberapa orang ahli dalam mengatakan tidak. Tapi tidak untuk semua orang. Secara khusus, saya termasuk orang yang sulit mengatakan tidak terhadap sesuatu hal. Membuat keputusan merupakan perancangan kerangka kerja dari segi prioritas dan resource untuk beberapa waktu yang akan datang. Kita sering mengatakan ya untuk saat ini tanpa memperhitungkan bagaimana kondisi di masa depan. Dalam hal ini diperlukan adanya pertimbangan terhadap opportunity cost masing-masing pekerjaan sebelum melakukan pengambilan keputusan tersebut.
Pada dasarnya hal ini merupakan persoalan decision-making. Tetapi yang perlu disorot adalah pertimbangkan segala sesuatu bentuk penawaran ataupun permintaan yang ditujukan kepada kita. Pertimbangkan kapan kita mengatakan ya serta kapan kita mengatakan tidak. Pertimbangkan pula jika keputusan yang diambil merupakan hal sebaliknya. Yang jelas tiap-tiap personal memiliki keputusan dan pertimbangannya tersendiri. Jangan selalu mengatakan ya jika kita merasa tidak sanggup dari segi prioritas dan resource di masa yang akan datang. Pertimbangkan juga untuk mengatakan tidak jika pekerjaan, penawaran atau permintaan tersebut hanya akan membebani kita. Karena implikasi dari hal tersebut adalah nilai serta esensi dari tiap kegiatan hanya akan menjadi parsial dan bahkan pada akhirnya adalah mengecewakan beberapa pihak.



